Kita harus ngisi form online di https://ceac.state.gov/genniv/ untuk visa non imigran. Untuk laki-laki dan perempuan ada sedikit perbedaan di form isiannya, yaitu ttg riwayat pendidikan untuk laki-laki harus diisi mulai dari SMP hingga pendidikan terakhir. Setelah formulir lengkap dan disubmit, kita akan menerima confirmation page (pdf) lewat email. Untuk visa kunjungan bisnis/konferensi, terakhir biayanya USD 160, saya dan temen-temen bayar lewat Standard Chartered Bank yang di Bandung. Di bukti bayar visa fee ada nomor yang nanti harus dimasukin untuk nentuin jadwal interview.
Setelah kita dapet jadwal interviewnya, siapin semua dokumen yang wajib dibawa dan juga dokumen pendukung. Dokumen utama yang harus dibawa diantaranya paspor, print out confirmation page dari us embassy, foto, bukti bayar visa dan print out appointment confirmation page. Tentang foto, untuk visa USA punya aturan sendiri. Waktu itu saya sempet foto di Jonas jalan Banda, Bandung. Ukuran dan backgroundnya udah oke, kecuali persyaratan bahwa ternyata garis rambut di atas dahi harus terlihat termasuk untuk yang berjilbab, sehingga saya harus foto ulang di jalan Sabang, Jakarta. Dokumen pendukung yang saya bawa waktu itu diantaranya surat undangan dan rekomendasi dari AAPG, AAPG Asia Pacific, dan Fakultas, confirmation page registrasi AAPG Convention, surat keterangan dari Bank, rekening koran, buku tabungan, ijazah, dan ticket & travel itinerary.
Sebaiknya sebelum jam 6 pagi udah sampe depan kedutaannya, karena jam 6 udah mulai antri disana. Waktu itu saya sama temen-temen dr bandung berangkat jam 1.30 malem, sampe lebakbulus jam 4 pagi janjian ketemu Chesa dulu, lalu Subuhan di gambir.
Kita mulai antri dari depan kedutaan, antrian pertama untuk di cek paspor dan jadwal interview, kemudian antrian kedua untuk masuk gerbang pertama kedutaan untuk dicek semua barang bawaan. Sebaiknya hanya bawa barang-barang yang bener-bener diperlukan untuk interview aja di dalam map dan dompet. Alat komunikasi dan barang elektronik lainnya harus dititip di ruang security. Gak diperbolehkan bawa makanan ataupun minuman. Kalau bawa kendaraan sendiri disini tidak tersedia tempat parkir, mungkin bisa parkir di Gambir, atau sebaiknya naik taksi atau minta di drop aja. Di antrian ketiga kita dicek dokumen utama, kemudian diserahin ke petugas di loket dan dituker dengan nomor grup antrian. Setelah dapet nomor grup antrian, kita nunggu di luar (ada kios makanan dan minuman) sebelum grupnya dipanggil ke ruang antri interview. Begitu nomor grup antrian kita dipanggil, kita masuk ke ruangan interview dan langsung antri per grup untuk diambil sidik jari. Sekitar setengah jam sampe 45 menitan nunggu, grup kami dipanggil, di interview satu-satu (kecuali yang apply satu keluarga langsung barengan ditanya-tanya nya). Waktu itu cuma ditanyain mau kemana, ngapain, IBA itu apa, disana tinggal dimana, di ITB semester berapa, terus dimintain surat rekomendasi dan sponsorship dari AAPG dan dari fakultas.. Dan langsung dapet lembar kertas putih yang artinya di-approve visanya! dan akan dikabari via email kapan visanya bisa diambil (pas apply visa ditanyain visanya mau diambil atau dianter, kami milih ngambil di RPX satrio, padahal katanya ternyata dianter pun gak kena charge lagi, hehe).
Kami interview visa hari Rabu dan dua hari kemudian dapet email kalo visanya udah bisa diambil di RPX satrio. Sempet muter-muter nyari RPX satrio sebelah mana. Plangnya kecil, ketutup daun-daunan pula, hahaha. RPX (lt.1) satu ruko dengan Fedex (lt.dasar), persis sebrangnya Sampoerna Strategic Square.
Kita mulai antri dari depan kedutaan, antrian pertama untuk di cek paspor dan jadwal interview, kemudian antrian kedua untuk masuk gerbang pertama kedutaan untuk dicek semua barang bawaan. Sebaiknya hanya bawa barang-barang yang bener-bener diperlukan untuk interview aja di dalam map dan dompet. Alat komunikasi dan barang elektronik lainnya harus dititip di ruang security. Gak diperbolehkan bawa makanan ataupun minuman. Kalau bawa kendaraan sendiri disini tidak tersedia tempat parkir, mungkin bisa parkir di Gambir, atau sebaiknya naik taksi atau minta di drop aja. Di antrian ketiga kita dicek dokumen utama, kemudian diserahin ke petugas di loket dan dituker dengan nomor grup antrian. Setelah dapet nomor grup antrian, kita nunggu di luar (ada kios makanan dan minuman) sebelum grupnya dipanggil ke ruang antri interview. Begitu nomor grup antrian kita dipanggil, kita masuk ke ruangan interview dan langsung antri per grup untuk diambil sidik jari. Sekitar setengah jam sampe 45 menitan nunggu, grup kami dipanggil, di interview satu-satu (kecuali yang apply satu keluarga langsung barengan ditanya-tanya nya). Waktu itu cuma ditanyain mau kemana, ngapain, IBA itu apa, disana tinggal dimana, di ITB semester berapa, terus dimintain surat rekomendasi dan sponsorship dari AAPG dan dari fakultas.. Dan langsung dapet lembar kertas putih yang artinya di-approve visanya! dan akan dikabari via email kapan visanya bisa diambil (pas apply visa ditanyain visanya mau diambil atau dianter, kami milih ngambil di RPX satrio, padahal katanya ternyata dianter pun gak kena charge lagi, hehe).
Kami interview visa hari Rabu dan dua hari kemudian dapet email kalo visanya udah bisa diambil di RPX satrio. Sempet muter-muter nyari RPX satrio sebelah mana. Plangnya kecil, ketutup daun-daunan pula, hahaha. RPX (lt.1) satu ruko dengan Fedex (lt.dasar), persis sebrangnya Sampoerna Strategic Square.
I have read all the comments and suggestions posted by the visitors for this article are very fine,We will wait for your next article so only.Thanks! kanadas visum
ReplyDelete